Berdirinya
Nahdlatul Ulama (NU) didasari oleh besarnya keperihatinan para ulama Haramain terhadap
gempuran aqidah umat Islam, baik dari dalam maupun di luar Islam. Lalu
berkumpullah beberapa ulama di Masjidil Haram Mekah dan mendiskusikan langkah
preventif untuk menjaga kemurniaan ajaran Ahlussunnah wal Jama’ah (Aswaja) di
Indonesia. Dari hasil diskusinya tersebut, tersimpullah sebuah kesepakatan
untuk mendirikan suatu wadah yang bisa mengembangkan dan menjaga ajaran Aswaja.
Pendirian wadah tersebut dipercayakan kepada Kyai Hasyim Asy’ari. Setelah mendapat
restu atau persetujuan dari Al-Habib Hasyim bin Umar bin Thoha bin Yahya
Pekalongan dan Syaikhuna Kyai Kholil Bangkalan Madura, maka Kyai Hasyim Asy’ari
mendirikan sebuah organisasi yang diberi nama Nahdlatul
Ulama (Kebangkitan
Ulama atau Kebangkitan Cendekiawan Islam) pada tanggal 16 Rajab 1344 H bertepatan dengan 31 Januari 1926 M. Informasi
ini diceritakan langsung oleh Kyai Maulana al-Habib Muhammad Luthfi bin Ali bin
Hasyim bin Yahya dari wasiat yang ia peroleh langsung dari Kyai Irfan yang sangat shaleh.
Sejak berdirinya
NU hingga saat ini, jamaahnya sangat ramai dan menjadi organisasi
kemasyarakatan terbesar di Indonesia. Bahkan saat ini, NU juga memiliki lebih
dari 25 cabang di lima benua, mulai dari Negara-negara di benua Asia, Timur
Tengah, Afrika, Eropa, Australia, dan benua Amerika. Tak heran bila ada slogan yang berbunyi: Ber-NU sama dengan Ber-Indonesia # NU = Indonesia.
Untuk itu, sangat
penting bagi masyarakat muslim Indonesia, khususnya muslim di Kabupaten Sambas
untuk ber-NU. Ada tujuh alasan pentingnya ber-NU sebagaimana pernah disampaikan
oleh KH Abdul Manan Ghani (mantan Ketua PBNU), yaitu:
Pertama, NU didirikan
para ulama. NU merupakan ormas Islam yang didirikan para ulama pada 1926, jauh
sebelum Indonesia merdeka. Hadratussyeaikh Hasyim Asy'ari didaulat menjadi Rais
Akbar NU atau pimpinan tertinggi sejak NU didirikan hingga ia wafat.
Kedua, ulama adalah
pewaris nabi. Para nabi diutus ke dunia untuk memperkenalkan Allah kepada umat
manusia dan mengajak mereka untuk menyembah Allah. Setelah para nabi tersebut
wafat, maka yang menjadi penerusnya adalah para ulama.
Ketiga, ulama NU adalah
penerus Wali Songo. Dalam sejarahnya, Wali Songo adalah para penyebar Islam di
wilayah Nusantara. Mereka menyebarkan Islam dengan cara-cara yang damai, sejuk
dan menggunakan pendekatan budaya lokal sehingga dalam kurun waktu singkat
berhasil mengislamkan mayoritas masyarakat Nusantara, khususnya di Pulau Jawa.
Keempat, NU mengusung
paham Ahlussunnah wal Jama'ah. Dalam bidang akidah, NU mengikuti
Abu Musa al-Asy'ari dan Abu Hasan al-Maturidi. Fikihnya mengikuti imam empat
yaitu Imam Abu Hanifah, Maliki, Syafi'i, dan Hanbali.
Kelima, sanad keilmuan
NU sampai kepada Nabi Muhammad. Ilmu-ilmu agama yang diajarkan di lingkungan NU
memiliki sanad yang tidak terputus hingga ke penulis kitab,
bahkan kepada Nabi Muhammad SAW.
Keenam, NU berdiri di
atas kebenaran.
Ketujuh, NKRI harga mati.
Bagi NU, keindonesiaan dan keislaman itu dalam satu tarikan nafas. Keduanya tidak
perlu dipertentangkan. Ulama dan warga NU menganggap bahwa NKRI bukan negara
agama tertentu dan juga bukan negara sekuler, namun Indonesia itu seperti
Negara Madinah yang dibangun atas dasar kesepakatan antar elemen bangsa yang
berbeda untuk hidup bersama di bawah bendera NKRI.
Jadi, sudahkan anda ber-NU? Ayo, mari ber-NU mulai saat
ini! @ndi

Posting Komentar