Sambas
– NU Sambas, Komisariat Alwathzihoebillah PMII
Sambas mengadakan kajian Kepemimpinan Perempuan Zaman Sekarang di sekretariat
PMII Jl. Jl. Sukamantri, Desa Dalam Kaum, Kecamatan Sambas pada Selasa malam
(10/04/2018).
Neny Nurahma selaku ketua Kopri PC PMII Sambas menjelaskan bahwa “perempuan harus bisa lebih maju, punya keahlian masing-masing, agar kedepannya perempuan akan menjadi orang yang sukses”.
“Semua orang adalah pemimpin, paling tidak menjadi pemimpin untuk dirinya sendiri. Jangan takut untuk menjadi seorang pemimpin. Perempuan harus bangkit dan aktif untuk menjadi yang terbaik, lanjut Neny.
Kajian ini menghadirkan mantan Bupati Sambas periode 2011-2016 yaitu dr. Hj. Juliarti Djuhardi Alwi, M.P.H sebagai pemateri. Kegiatan dimulai pada 19.30 WIB, (10/04).
Dalam pembukaan kajiannya Juliarti Djuhardi Alwi menjelaskan bahwa perempuan dan kepemimpinan dalam perspektif Islam memiliki banyak tantangan. Seperti dalam sebuah hadis sahih ”celakalah suatu kaum jika dipimpin oleh seorang perempuan.”
“Dalam hadis tersebut terdapat dua pendapat para ulama yaitu ada sebagian ulama yang mengartikannya secara tekstual saja, sehingga beranggapan bahwa perempuan tidak boleh untuk menjadi seorang pemimpin. Sedangkan pendapat lainnya adalah ada sebagian ulama yang lain mengartikannya dengan satu per satu kata, sehingga beranggapan bahwa perempuan boleh menjadi pemimpin asal memiliki sifat kepemimpinan”, lanjutnya.
“Selama seorang perempuan mempunyai kemampuan untuk memimpin, kenapa tidak? asalkan tidak melupakan kodratnya sebagai perempuan”, jelas Juliarti.
“Untuk menjadi seorang pemimpin seperti Bupati, Gubernur, dan Presiden, maka ada tiga hal yang harus di miliki oleh perempuan. Pertama, perempuan tersebut haruslah memilik ilmu, yang kedua perempuan tersebut harus memiliki sikap tegas/berani, dan yang terakhir adalah seorang perempuan harus memiliki intuisi”, ujar Juliarti.
“Seorang pemimpin harus menguasai Technical Skill, Human Skill, dan Conseptual Skill, dalam memimpin”, lanjutnya.
“Segudang kecerdasan akan dikalahkan segenggam kekuasaan. Politik jahat tergantung manusianya. Dan politik baik, santun itu juga tergantung manusianya. Perempuan sekarang harus ikut andil dalam berpolitik. Bukan berarti untuk mengalahkan lelaki, tetapi untuk membantu lelaki. Perempuan juga harus ikut andil dalam memajukan kabupaten Sambas, ujarnya.
Selama seorang perempuan mempunyai kemampuan untuk memimpin, kenapa tidak. Asalkan tidak melupakan kodratnya sebagai seoarang perempuan, tegasnya. (Rusiana/Halim)
Neny Nurahma selaku ketua Kopri PC PMII Sambas menjelaskan bahwa “perempuan harus bisa lebih maju, punya keahlian masing-masing, agar kedepannya perempuan akan menjadi orang yang sukses”.
“Semua orang adalah pemimpin, paling tidak menjadi pemimpin untuk dirinya sendiri. Jangan takut untuk menjadi seorang pemimpin. Perempuan harus bangkit dan aktif untuk menjadi yang terbaik, lanjut Neny.
Kajian ini menghadirkan mantan Bupati Sambas periode 2011-2016 yaitu dr. Hj. Juliarti Djuhardi Alwi, M.P.H sebagai pemateri. Kegiatan dimulai pada 19.30 WIB, (10/04).
Dalam pembukaan kajiannya Juliarti Djuhardi Alwi menjelaskan bahwa perempuan dan kepemimpinan dalam perspektif Islam memiliki banyak tantangan. Seperti dalam sebuah hadis sahih ”celakalah suatu kaum jika dipimpin oleh seorang perempuan.”
“Dalam hadis tersebut terdapat dua pendapat para ulama yaitu ada sebagian ulama yang mengartikannya secara tekstual saja, sehingga beranggapan bahwa perempuan tidak boleh untuk menjadi seorang pemimpin. Sedangkan pendapat lainnya adalah ada sebagian ulama yang lain mengartikannya dengan satu per satu kata, sehingga beranggapan bahwa perempuan boleh menjadi pemimpin asal memiliki sifat kepemimpinan”, lanjutnya.
“Selama seorang perempuan mempunyai kemampuan untuk memimpin, kenapa tidak? asalkan tidak melupakan kodratnya sebagai perempuan”, jelas Juliarti.
“Untuk menjadi seorang pemimpin seperti Bupati, Gubernur, dan Presiden, maka ada tiga hal yang harus di miliki oleh perempuan. Pertama, perempuan tersebut haruslah memilik ilmu, yang kedua perempuan tersebut harus memiliki sikap tegas/berani, dan yang terakhir adalah seorang perempuan harus memiliki intuisi”, ujar Juliarti.
“Seorang pemimpin harus menguasai Technical Skill, Human Skill, dan Conseptual Skill, dalam memimpin”, lanjutnya.
“Segudang kecerdasan akan dikalahkan segenggam kekuasaan. Politik jahat tergantung manusianya. Dan politik baik, santun itu juga tergantung manusianya. Perempuan sekarang harus ikut andil dalam berpolitik. Bukan berarti untuk mengalahkan lelaki, tetapi untuk membantu lelaki. Perempuan juga harus ikut andil dalam memajukan kabupaten Sambas, ujarnya.
Selama seorang perempuan mempunyai kemampuan untuk memimpin, kenapa tidak. Asalkan tidak melupakan kodratnya sebagai seoarang perempuan, tegasnya. (Rusiana/Halim)




Posting Komentar